Pompa ASI memang praktis, tapi ada kalanya alat itu tidak bisa diandalkan: baterai habis saat di kantor, listrik padam, atau payudara terasa penuh saat Mums sedang di perjalanan. Di saat seperti itu, mengetahui cara memerah ASI dengan tangan bisa jadi penyelamat.
Panduan ini disusun berdasarkan artikel edukasi Memerah ASI dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dilengkapi langkah teknik Marmet yang banyak diajarkan oleh konselor laktasi. Semua langkahnya bisa Mums praktikkan sendiri di rumah tanpa alat khusus.
Ringkasan cepat: Cuci tangan, pijat payudara dari pangkal ke arah puting, letakkan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf C sekitar 2,5 sampai 4 cm dari puting, tekan ke arah dada, pencet lembut, lalu lepaskan. Ulangi dengan ritme teratur dan pindahkan posisi jari agar semua bagian payudara terperah.
Kapan Mums Perlu Memerah ASI dengan Tangan?
Menurut IDAI, ada beberapa kondisi saat ibu mungkin perlu memerah ASI, antara lain:
Payudara sangat bengkak dan terasa tidak nyaman.
Bayi untuk sementara tidak dapat menyusu langsung, misalnya karena lahir prematur atau sedang dirawat.
Puting sangat lecet sehingga perlu diistirahatkan.
Untuk merangsang pengeluaran dan produksi ASI.
Selain itu, memerah dengan tangan juga berguna saat Mums bekerja dan pompa tidak bisa dipakai. IDAI bahkan menyarankan ibu berlatih memerah dengan tangan sejak awal, meski belum merasa membutuhkannya, sebagai persiapan menghadapi keadaan yang tidak terduga.

Foto oleh Towfiqu barbhuiya di Pexels
Kelebihan Memerah ASI dengan Tangan
Tanpa biaya dan tanpa alat. Cukup tangan yang bersih dan wadah bersih.
Bisa dilakukan di mana saja, termasuk saat listrik padam atau sedang bepergian.
Lebih leluasa mengatur tekanan, sehingga cocok saat puting lecet atau payudara sensitif.
Efektif untuk kolostrum, yaitu ASI pertama yang jumlahnya sedikit dan kental di hari-hari awal setelah melahirkan.
Persiapan Sebelum Memerah
Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, lalu keringkan dengan handuk bersih.
Siapkan wadah bersih bermulut lebar, seperti mangkuk atau gelas, agar ASI mudah ditampung. Setelah selesai, ASI bisa dipindahkan ke botol atau kantong ASI.
Cari posisi yang santai. Duduk dengan badan sedikit condong ke depan dan letakkan wadah di dekat payudara.
Bantu refleks keluarnya ASI. Kompres hangat, mandi air hangat, atau melihat foto si kecil bisa membantu ASI lebih mudah mengalir.
Cara Memerah ASI dengan Tangan, Langkah demi Langkah
1. Pijat payudara dengan lembut
Pijat payudara dengan gerakan melingkar dari pangkal ke arah puting. Lanjutkan dengan mengusap lembut dari pangkal ke arah puting, lalu rangsang puting dengan ibu jari dan jari telunjuk. Pijatan ini membantu merangsang refleks oksitosin atau let down reflex.
2. Bentuk posisi jari seperti huruf C
Letakkan ibu jari di bagian atas areola (posisi jam 12) dan jari telunjuk di bagian bawah (posisi jam 6), kira-kira 2,5 sampai 4 cm dari puting. Ibu jari dan jari telunjuk berada dalam satu garis lurus dengan puting.
3. Tekan ke arah dada
Tekan jari-jari lurus ke belakang ke arah dinding dada tanpa melebarkan posisi jari.
4. Pencet lembut, lalu lepaskan
Pencet payudara di antara ibu jari dan jari telunjuk dengan gerakan menggulung ke arah depan, seperti mengikuti gerakan isapan bayi. Lalu lepaskan tekanannya. Ulangi gerakan tekan, pencet, dan lepas dengan ritme yang teratur.
5. Pindahkan posisi jari
Saat aliran ASI mulai melambat, geser posisi jari mengelilingi areola, misalnya ke posisi jam 3 dan jam 9, lalu jam 2 dan jam 8. Dengan begitu, semua bagian payudara ikut terperah.
6. Bergantian antara kedua payudara
Teknik Marmet menganjurkan pola bergantian agar perahan lebih optimal:
Perah tiap payudara selama 5 sampai 7 menit.
Pijat, usap, dan goyangkan payudara dengan lembut, lalu perah lagi 3 sampai 5 menit untuk masing-masing payudara.
Pijat sekali lagi, kemudian perah 2 sampai 3 menit untuk masing-masing payudara.
Secara keseluruhan, satu sesi memerah biasanya memakan waktu sekitar 20 sampai 30 menit. Hentikan ketika payudara terasa lebih lembek dan Mums merasa sudah mengosongkannya sebisa mungkin.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kesalahan | Akibatnya | Yang benar |
|---|---|---|
Memencet puting secara langsung | Puting lecet dan ASI tidak keluar optimal | Tekan area di belakang puting, 2,5 sampai 4 cm dari ujungnya |
Menggeser jari di atas kulit | Kulit payudara iritasi atau memar | Jari tetap di posisinya, hanya gerakan tekan, pencet, dan lepas |
Menarik atau memeras terlalu keras | Nyeri dan jaringan payudara bisa cedera | Gunakan tekanan lembut dan bersabar |
Hanya memerah di satu posisi | Sebagian saluran ASI tidak terkosongkan | Putar posisi jari mengelilingi areola |
Cepat menyerah karena hasilnya sedikit | Produksi tidak terstimulasi dengan baik | Lanjutkan secara rutin, hasil biasanya meningkat seiring waktu |
Tips Agar Hasil Perahan Lebih Banyak
Memerah sesuai jadwal menyusu bayi. Saat jauh dari si kecil, IDAI menyarankan memerah sesuai jam bayi biasanya minum. Mums yang bekerja bisa mencontoh jadwal pumping ASI untuk ibu bekerja.
Kompres hangat dan pijat sebelum memerah. Cara ini membantu ASI keluar lebih lancar.
Jangan putus asa di awal. Menurut IDAI, dengan memerah secara rutin, produksi ASI biasanya meningkat dalam sekitar 2 minggu.
Cukupi kebutuhan cairan dan istirahat. Tips lainnya bisa dibaca di artikel 12 cara memperbanyak ASI secara alami.
Setelah Memerah: Cara Menyimpan ASI dengan Aman
Berikut beberapa poin dari panduan Penyimpanan ASI Perah dari IDAI:
Gunakan botol kaca atau wadah plastik bebas BPA dengan tutup rapat, atau kantong khusus ASI. Hindari kantong plastik biasa.
Simpan sesuai porsi minum bayi agar tidak banyak yang terbuang.
Beri label nama dan tanggal ASI diperah, lalu gunakan ASI yang paling lama lebih dulu.
Sisakan ruang sekitar 2,5 cm di bagian atas wadah karena volume ASI bertambah saat membeku.
Jangan menyimpan ASI di bagian pintu kulkas atau freezer.
Jangan mencampur ASI yang sudah beku dengan ASI yang baru diperah.
Saat akan diberikan, putar wadah perlahan agar lemaknya tercampur. Jangan dikocok.
Panduan lebih detail ada di artikel cara packing ASI untuk disimpan dan tips mengatur stok ASI di freezer.

Foto oleh Suzy Hazelwood di Pexels
Kapan Perlu Menemui Tenaga Kesehatan?
Konsultasikan ke dokter, bidan, atau konselor laktasi jika:
Payudara bengkak, merah, terasa panas, dan nyeri, apalagi disertai demam. Kondisi ini bisa menjadi tanda mastitis. Baca juga cara mengatasi mastitis pada ibu menyusui.
Memerah terasa sangat nyeri atau puting terus lecet.
ASI tetap sangat sedikit meski sudah rutin memerah selama beberapa minggu.
Mums ingin dibimbing langsung. Teknik memerah paling mudah dipelajari dengan praktik bersama konselor laktasi.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Mana yang lebih baik, memerah dengan tangan atau pompa?
Keduanya sama baiknya selama dilakukan dengan benar. IDAI mencatat banyak ibu justru merasa memerah dengan tangan lebih mudah dan produktif, sementara sebagian lain lebih cocok dengan pompa. Pilih yang paling nyaman dan bisa dilakukan secara rutin.
Berapa lama waktu memerah ASI dengan tangan?
Sekitar 20 sampai 30 menit untuk kedua payudara jika mengikuti pola teknik Marmet. Di awal, waktunya mungkin lebih lama sampai Mums terbiasa.
Apakah memerah dengan tangan bisa meningkatkan produksi ASI?
Bisa. Payudara yang rutin dikosongkan akan memberi sinyal tubuh untuk memproduksi ASI lebih banyak.
Bolehkah ASI perahan langsung dibekukan?
Boleh. Jika tidak akan dipakai dalam waktu dekat, bekukan ASI segera setelah diperah dan dimasukkan ke wadah yang rapat dan berlabel.
Simpan Hasil Perahan dengan Tenang
Setiap tetes ASI perah adalah hasil kerja keras Mums. Agar kualitasnya tetap terjaga sampai diminum si kecil, ASI perlu disimpan di freezer dengan suhu yang stabil dan ruang yang cukup. Jika freezer kulkas di rumah sudah penuh, Mum 'N Hun menyediakan sewa freezer ASI bulanan yang diantar sampai ke rumah, lengkap dengan panduan pemakaiannya. Konsultasi dulu lewat WhatsApp untuk memilih kapasitas yang sesuai dengan jumlah perahan Mums.
Referensi
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Memerah ASI.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Penyimpanan ASI Perah.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan pendampingan langsung dari dokter, bidan, atau konselor laktasi.









