Wajah si Kecil memerah, badannya menggeliat, lalu terdengar suara "eeeh" yang panjang. Kadang ia sampai menangis, padahal pup yang keluar ternyata lembek atau malah tidak keluar sama sekali. Wajar kalau Mums langsung khawatir.
Kabar baiknya, bayi sering ngeden pada bulan-bulan pertama umumnya normal. Pencernaannya masih belajar bekerja. Meski begitu, ada beberapa kondisi yang perlu Mums kenali agar tahu kapan cukup ditenangkan di rumah dan kapan perlu ke dokter.
Apakah Bayi Sering Ngeden Itu Normal?
Ya, pada kebanyakan kasus. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut infant dyschezia atau sering juga dijuluki grunting baby syndrome. Kondisi ini paling sering muncul pada bayi usia 0 sampai 6 bulan.
Penyebabnya sederhana: untuk pup, bayi harus menekan perut sekaligus mengendurkan otot dasar panggul. Bayi belum bisa melakukan keduanya bersamaan. Akibatnya ia mengejan keras melawan ototnya sendiri, sampai wajahnya merah dan menangis.
Menurut kriteria Rome IV yang dipakai dokter anak, ngeden tergolong dyschezia yang normal bila:
Bayi berusia di bawah 9 bulan.
Ia mengejan dan menangis minimal 10 menit sebelum pup keluar.
Pup yang akhirnya keluar bertekstur lembek, bukan keras.
Bayi tidak punya masalah kesehatan lain: menyusu baik, berat badan naik, tidak demam.
Kondisi ini biasanya hilang sendiri saat bayi berusia 3 sampai 4 bulan, ketika ia sudah belajar mengoordinasikan ototnya. Bedanya dengan sembelit: pada sembelit, pup bayi keras, kering, atau berbentuk butiran kecil.
6 Penyebab Bayi Sering Ngeden
Selain dyschezia, ada beberapa hal lain yang membuat bayi ngeden terus. Kenali satu per satu agar Mums bisa menebak pemicunya.
Otot pencernaan belum matang. Ini penyebab paling umum, seperti dijelaskan di atas. Bayi ngeden lama, tapi pup yang keluar tetap lembek.
Perut kembung karena banyak gas. Bayi bisa menelan udara saat menyusu, menangis, atau minum dari dot yang alirannya terlalu cepat. Gas yang terperangkap membuatnya ngulet dan ngeden, sering diikuti kentut.
Pelekatan menyusu kurang pas. Pelekatan yang longgar membuat lebih banyak udara ikut tertelan. Cek kembali posisi menyusui yang benar agar bayi tidak gumoh.
Sembelit. Lebih jarang terjadi pada bayi ASI eksklusif. Lebih sering pada bayi susu formula, terutama jika takaran air dan bubuk tidak sesuai petunjuk, atau pada bayi yang baru mulai MPASI.
Refluks. Bayi yang sering gumoh atau muntah bisa ikut mengejan karena tidak nyaman di perut dan kerongkongan.
Ngeden saat tidur. Bayi tidur dalam fase tidur aktif yang dangkal. Pada fase ini ia sering bergerak, bersuara, dan menggeliat. Selama ia kembali tenang sendiri, ini bukan masalah.
Perlu diingat, bayi ASI eksklusif di atas usia 6 minggu bisa tidak pup beberapa hari, bahkan sampai sekitar seminggu. Selama pup yang keluar lembek dan bayi tampak sehat, ini masih normal karena ASI terserap hampir sempurna.
Cara Mengatasi Bayi Sering Ngeden di Rumah
Kalau si Kecil tetap aktif, menyusu dengan baik, dan pupnya lembek, cara-cara berikut bisa membantunya lebih nyaman:
Gerakan kaki mengayuh sepeda. Baringkan bayi telentang, pegang kedua kakinya, lalu gerakkan perlahan seperti mengayuh sepeda selama 1 sampai 2 menit. Gerakan ini membantu gas bergerak keluar.
Pijat perut searah jarum jam. Gunakan ujung jari dengan sedikit minyak bayi, pijat lembut melingkar searah jarum jam di sekitar pusar. Lakukan saat perut tidak penuh, sekitar 30 menit setelah menyusu.
Tummy time saat bayi terjaga. Posisi tengkurap memberi tekanan lembut pada perut. Selalu awasi bayi dan jangan biarkan ia tidur tengkurap.
Sendawakan setiap selesai menyusu. Tepuk lembut punggungnya dalam posisi tegak. Pada bayi yang banyak menelan udara, sendawakan juga di tengah sesi menyusu.
Mandikan dengan air hangat. Air hangat membantu otot perut lebih rileks sehingga bayi lebih mudah pup.
Perbaiki teknik menyusu atau dot. Pastikan mulut bayi melekat sampai area areola. Untuk bayi minum dari botol, pilih dot dengan aliran sesuai usia dan miringkan botol agar dot selalu terisi susu.
Ikuti takaran susu formula dengan tepat. Terlalu banyak bubuk dan terlalu sedikit air bisa membuat pup lebih keras.
Beri waktu. Bagi bayi dengan dyschezia, cara terbaik justru membiarkannya belajar sendiri. Peluk dan tenangkan, tanpa memaksa pup keluar.
Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan
Niat membantu kadang justru memperlama masalah. Hindari hal-hal berikut:
Merangsang anus bayi dengan termometer, cotton bud, atau ujung sabun. Cara ini memang membuat bayi cepat pup, tapi ia jadi bergantung pada rangsangan dari luar dan lebih lama belajar pup sendiri.
Memberi obat pencahar, jamu, atau minyak tanpa resep dokter.
Memberi air putih, teh, atau jus pada bayi di bawah 6 bulan. ASI atau susu formula sudah mencukupi kebutuhan cairannya.
Mengganti susu formula berkali-kali tanpa saran dokter.
Kapan Bayi Ngeden Perlu Dibawa ke Dokter?
Segera periksakan si Kecil ke dokter anak bila ngeden disertai salah satu tanda berikut:
Tanda | Kemungkinan artinya |
|---|---|
Pup keras, kering, atau berbentuk butiran | Sembelit |
Ada darah di pup | Fisura anus, alergi protein susu sapi, atau gangguan lain |
Muntah, terutama berwarna hijau | Gangguan saluran cerna yang perlu diperiksa segera |
Perut kembung dan keras saat disentuh | Penumpukan gas berat atau sumbatan usus |
Demam, lemas, atau malas menyusu | Infeksi atau penyakit lain |
Berat badan tidak naik | Asupan kurang atau ada masalah penyerapan |
Bayi baru lahir belum pup dalam 48 jam pertama | Perlu dicek kelainan usus, misalnya Hirschsprung |
Menangis terus lebih dari 3 jam dan sulit ditenangkan | Bisa kolik atau penyebab lain |
Mums juga bisa membaca 10 tanda bayi kurang sehat yang perlu diwaspadai sebagai panduan tambahan.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Bayi ngeden terus tapi tidak BAB, apakah sembelit?
Belum tentu. Jika saat akhirnya pup teksturnya lembek, itu bukan sembelit. Sembelit ditandai pup yang keras atau berbentuk butiran.
Sampai usia berapa bayi sering ngeden?
Umumnya membaik di usia 3 sampai 4 bulan, dan hilang sebelum usia 9 bulan.
Kenapa bayi ngeden saat tidur?
Bayi banyak berada di fase tidur aktif yang dangkal, jadi ia sering bergerak, bersuara, dan mengejan. Ini normal selama ia tidak terbangun kesakitan.
Apakah bayi ASI bisa sembelit?
Bisa, tapi jarang. Bayi ASI yang tidak pup beberapa hari belum tentu sembelit selama pupnya tetap lembek. Jika si Kecil justru pup terlalu sering dan cair, baca juga cara mengatasi bayi mencret atau diare.
Kesimpulan
Bayi sering ngeden sebagian besar adalah proses belajar yang normal, bukan tanda sakit. Tenangkan si Kecil, bantu dengan pijatan dan gerakan kaki, lalu beri ia waktu. Bila muncul tanda bahaya seperti pup berdarah, muntah hijau, atau berat badan tidak naik, segera konsultasikan ke dokter anak.
Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.












