Buku KIA penuh coretan, jadwal posyandu bentrok dengan jam kerja, dan nama vaksinnya terdengar mirip satu sama lain. Wajar kalau Mums sering bertanya: jadwal imunisasi bayi yang benar itu seperti apa, dan sekarang si kecil sudah sampai mana?
Artikel ini merangkum jadwal imunisasi bayi usia 0 sampai 24 bulan berdasarkan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024, versi terbaru yang tersedia di situs resmi IDAI saat artikel ini disusun. Kami menyajikannya per usia supaya lebih mudah dicocokkan dengan buku KIA si kecil.
Ringkasan cepat: Imunisasi dimulai sejak lahir (Hepatitis B, Polio, BCG), dilanjutkan di usia 2, 3, dan 4 bulan (DTP, Hib, Hepatitis B, Polio, PCV, Rotavirus), MR di usia 9 bulan, lalu booster di usia 12 sampai 18 bulan. Jadwal akhir tetap disesuaikan oleh dokter atau bidan dengan kondisi si kecil.
Mengapa Imunisasi Bayi Perlu Tepat Waktu?
Imunisasi melatih sistem kekebalan tubuh mengenali kuman penyebab penyakit sebelum si kecil benar-benar terpapar. Jadwalnya disusun berdasarkan usia ketika bayi paling rentan dan ketika vaksin bekerja paling optimal. Karena itu, mengikuti jadwal sedekat mungkin membantu si kecil terlindungi lebih cepat dari penyakit seperti TBC, campak, difteri, pertusis, polio, dan pneumonia.

Foto oleh CP Khanal di Pexels
Cara Membaca Usia dalam Jadwal Imunisasi
Dalam jadwal IDAI, angka usia dibaca sebagai rentang. Contohnya, usia 2 bulan berarti mulai 2 bulan (60 hari) sampai 2 bulan 29 hari (89 hari). Jadi Mums tidak perlu panik jika jadwal imunisasi bergeser beberapa hari selama masih dalam rentang tersebut.
Jadwal Imunisasi Bayi per Usia (0 sampai 24 Bulan)
Usia | Imunisasi yang dianjurkan |
|---|---|
Lahir (sebelum 24 jam) | Hepatitis B dosis 0 (didahului suntikan vitamin K1), Polio tetes dosis 0 saat bayi pulang dari fasilitas kesehatan |
Lahir sampai sebelum 1 bulan | BCG |
2 bulan | DTP 1, Hib 1, Hepatitis B 1, Polio 1, PCV 1, Rotavirus 1 |
3 bulan | DTP 2, Hib 2, Hepatitis B 2, Polio 2 |
4 bulan | DTP 3, Hib 3, Hepatitis B 3, Polio 3, PCV 2, Rotavirus 2 |
6 bulan | PCV 3, Rotavirus 3 (khusus vaksin pentavalen/RV5), Influenza (mulai usia 6 bulan, diulang setiap tahun) |
9 bulan | MR 1; Japanese encephalitis (JE) 1 untuk yang tinggal di atau akan bepergian ke daerah endemis |
12 sampai 15 bulan | PCV booster, Varisela (mulai 12 bulan, 2 dosis), Hepatitis A (mulai 12 bulan, 2 dosis dengan jarak 6 sampai 18 bulan) |
15 sampai 18 bulan | MR atau MMR dosis kedua |
18 bulan | Booster DTP 4, Hib 4, Hepatitis B 4, Polio 4 |
24 bulan | Tifoid (mulai usia 2 tahun, diulang setiap 3 tahun); JE booster untuk daerah endemis |
Sumber: Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024. DTP, Hib, dan Hepatitis B biasanya diberikan sekaligus dalam satu suntikan vaksin kombinasi (pentavalen atau heksavalen).
Penjelasan Singkat Tiap Vaksin
Hepatitis B
Diberikan segera setelah lahir sebelum bayi berusia 24 jam, lalu dilanjutkan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, dengan booster di usia 18 bulan. Bayi dengan berat lahir kurang dari 2.000 gram umumnya ditunda hingga usia 1 bulan atau saat pulang dari rumah sakit, kecuali ada kondisi khusus yang ditentukan dokter.
Polio
Polio tetes (bOPV) diberikan saat lahir dan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Sesuai panduan Kemenkes, bayi juga mendapat minimal 2 kali polio suntik (IPV) pada usia 4 dan 9 bulan.
BCG
Melindungi dari TBC berat. Idealnya diberikan segera setelah lahir atau sebelum usia 1 bulan. Jika baru diberikan di usia 3 bulan atau lebih, dokter biasanya melakukan uji tuberkulin terlebih dahulu.
DTP dan Hib
DTP melindungi dari difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan), sedangkan Hib melindungi dari infeksi bakteri Haemophilus influenzae tipe b yang bisa menyebabkan radang selaput otak. Keduanya diberikan pada usia 2, 3, 4 bulan (atau 2, 4, 6 bulan) dengan booster di usia 18 bulan.
PCV (pneumokokus)
Mencegah infeksi pneumokokus seperti pneumonia dan radang selaput otak. IDAI menganjurkan pemberian di usia 2, 4, dan 6 bulan dengan booster di usia 12 sampai 15 bulan. Dalam program imunisasi nasional, PCV diberikan di usia 2, 3, dan 12 bulan.
Rotavirus
Mencegah diare berat akibat rotavirus. Vaksin diteteskan ke mulut, dengan dosis pertama di usia 6 sampai 12 minggu. Jumlah dosis bergantung pada jenis vaksin: 2 dosis untuk vaksin monovalen (RV1) atau 3 dosis untuk vaksin pentavalen (RV5). Dalam program nasional, vaksin rotavirus diberikan di usia 2, 3, dan 4 bulan.
Influenza
Dapat diberikan mulai usia 6 bulan. Pada pemberian pertama untuk anak usia 6 bulan sampai 8 tahun, vaksin diberikan 2 dosis dengan jarak 4 minggu, lalu diulang setiap tahun.
MR atau MMR
Melindungi dari campak dan rubela (serta gondongan untuk MMR). Dosis pertama di usia 9 bulan, dosis kedua di usia 15 sampai 18 bulan, dan dosis ketiga di usia 5 sampai 7 tahun.
Varisela, Hepatitis A, dan Tifoid
Varisela (cacar air) dan Hepatitis A dapat diberikan mulai usia 12 bulan, masing-masing 2 dosis. Vaksin tifoid diberikan mulai usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun.
Bedanya Imunisasi Program Pemerintah dan Rekomendasi IDAI
Imunisasi program pemerintah bisa didapatkan di posyandu dan puskesmas, dan sebagian besar mengikuti jadwal yang sama dengan IDAI. Rekomendasi IDAI mencakup beberapa vaksin tambahan yang umumnya tersedia di dokter anak atau rumah sakit swasta, seperti influenza, varisela, hepatitis A, dan tifoid. Ada juga sedikit perbedaan jadwal, misalnya untuk PCV dan rotavirus seperti yang dijelaskan di atas. Diskusikan dengan dokter atau bidan untuk menentukan jadwal yang paling sesuai.
Bagaimana Jika Imunisasi Terlambat?
Jangan khawatir. Jika si kecil terlewat satu jadwal, imunisasi umumnya tidak perlu diulang dari awal. Dokter akan memberikan imunisasi kejar (catch-up) sesuai usia dan riwayat vaksin sebelumnya. Bawa buku KIA atau catatan imunisasi setiap kali kontrol agar tenaga kesehatan bisa menyusun jadwal lanjutan dengan tepat.
Persiapan Sebelum Imunisasi
Bawa buku KIA atau kartu imunisasi.
Pakaikan baju yang mudah dibuka di bagian lengan dan paha.
Sampaikan kepada petugas jika si kecil sedang demam, pernah mengalami reaksi berat setelah imunisasi, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Susui si kecil saat atau segera setelah disuntik. Pelukan, sentuhan kulit, dan rasa manis ASI membantu bayi lebih tenang.
Reaksi Setelah Imunisasi dan Cara Menanganinya
Setelah imunisasi, si kecil mungkin mengalami reaksi ringan seperti demam ringan, kemerahan atau bengkak di bekas suntikan, dan lebih rewel dari biasanya. Reaksi ini umumnya membaik dalam 1 sampai 2 hari. Yang bisa Mums lakukan:
Susui lebih sering agar si kecil nyaman dan tetap terhidrasi.
Kompres bekas suntikan dengan kain bersih yang dibasahi air biasa.
Pakaikan baju yang tipis dan nyaman.
Berikan obat penurun panas hanya sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Panduannya bisa Mums baca di artikel obat bayi demam yang aman dan sesuai anjuran dokter.
Segera ke dokter atau IGD jika si kecil mengalami demam tinggi, kejang, menangis terus-menerus selama berjam-jam, tampak sangat lemas, atau menunjukkan tanda alergi seperti sesak napas, bengkak di wajah, atau ruam yang menyebar.

Foto oleh Daniel Duarte di Pexels
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah bayi boleh imunisasi saat batuk pilek ringan?
Umumnya boleh jika batuk pilek ringan dan tidak disertai demam tinggi. Tetap sampaikan kondisi si kecil kepada dokter atau bidan sebelum imunisasi.
Apakah boleh beberapa vaksin diberikan di hari yang sama?
Boleh. Pemberian beberapa vaksin sekaligus sudah lazim dan aman, serta membantu si kecil terlindungi lebih cepat tanpa perlu bolak-balik ke fasilitas kesehatan.
Bolehkah langsung menyusui setelah imunisasi?
Boleh, bahkan dianjurkan. Termasuk setelah vaksin yang diteteskan ke mulut seperti polio dan rotavirus.
Apakah jadwal imunisasi IDAI bisa berubah?
Bisa. IDAI memperbarui rekomendasinya secara berkala mengikuti perkembangan ilmu dan vaksin yang tersedia. Selalu cek informasi terbaru di situs resmi IDAI atau tanyakan kepada dokter anak.
Siapkan ASIP untuk Hari Imunisasi
Hari imunisasi sering berarti si kecil lebih rewel dan ingin menyusu lebih sering. Bagi Mums yang bekerja, jadwal imunisasi juga kadang membuat waktu di rumah lebih sempit. Stok ASI perah yang cukup membantu si kecil tetap mendapat ASI meski Mums harus kembali beraktivitas. Pastikan cara penyajiannya benar dengan mengikuti cara mencairkan ASI beku sesuai standar IDAI.
Kalau freezer di rumah sudah tidak muat untuk stok ASIP, Mum 'N Hun menyediakan sewa freezer ASI bulanan yang diantar sampai ke rumah. Konsultasi dulu lewat WhatsApp untuk memilih kapasitas yang pas.
Referensi
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Dokumen PDF Jadwal Imunisasi IDAI 2024 beserta keterangan tiap vaksin.
Artikel ini bersifat informatif dan disusun berdasarkan rekomendasi IDAI 2024. Jadwal imunisasi si kecil dapat disesuaikan oleh dokter atau tenaga kesehatan sesuai kondisi kesehatannya.













